Tugas Teori Ekonomi dan Manajemen 2
Beberapa Parameter Penting Ekonomi Makro
A. Money and Comersial Banking
Industri perbankan komersial merupakan salah satu institusi sentral dalam sistem perekonomian. Industri ini mempertemukan permintaan dan penawaran uang sebagai salah satu faktor produksi dalam sistem perekonomian. Perbankan menjadi isu krusial dalam perekonomian karena kegagalan kinerja sebuah bank dalam sistem perekonomian bisa berdampak pada krisis keuangan jika dampak yang dihasilkan bersifat sistemik. Pada umumnya penyebab kegagalan kinerja perbankan disebabkan oleh tingginya tingkat non-performing loan (NPL) atau gagal bayar oleh para debitur. Faktor gagal bayar ini disamping karena kondisi internal kreditur dapat pula disebabkan oleh faktor eksternal seperti kondisi ekonomi makro atau faktor internal industri perbankan seperti proses manajemen risiko kredit yang diterapkan oleh industri perbankan. Penelitian ini berupaya untuk mengungkap pengaruh kondisi ekonomi makro dan proses manajemen risiko kredit melalui uji model dengan menggunakan perangkat analisis jalur (path analysis) terhadap NPL. Berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya pada kajian ekonomi makro yang lebih banyak menggunakan data sekunder time series, data pada penelitian ini bersumber dari kuesioner untuk mengukur persepsi analis kredit industri perbankan dengan mengambil studi kasus di Bank X. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari kondisi ekonomi makro baik secara langsung maupun secara tidak langsung melalui variabel proses manajemen risiko kredit terhadap tingkat NPL.
Kondisi Ekonomi Makro dan Tingkat NPL dalam konteks perekonomian sebuah negara, institusi perbankan, yang dalam konteks penelitian ini adalah bank-bank komersial, memiliki peran yang krusial terutama bagi pembangunan perekonomian di negara berkembang. Hal ini disebabkan karena banyak pelaku ekonomi kecil dan menengah di negaranegara sedang membangun ini tidak memiliki akses terhadap pasar modal, sehingga keberadaan bank-bank komersial sangat diperlukan untuk memberikan dukungan pendanaan. Beberapa penelitian terdahulu yang telah dilakukan menunjukkan bahwa keberadaan bank-bank komersial yang berfungsi dengan baik dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi, sementara yang tidak berfungsi dengan baik akan menghambat kemajuan ekonomi bahkan memperburuk kemiskinan pada negara yang sedang membangun (Richard et al., 2008). Louzis et.al (2012) mengemukakan satu diantara beberapa faktor penentu timbulnya NPL adalah faktor Ekonomi Makro. Dalam beberapa literatur yang membahas mengenai kondisi ekonomi dan dampaknya terhadap kualitas kredit menjelaskan terdapat fase dimana NPL relatif rendah serta relatif meningkat. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa pada saat ekonomi mengalami reses maka terdapat indikasi peningkatan NPL begitu juga sebaliknya. Peningkatan NPL diakibatkan berkurangnya seluruh kegiatan konsumsi ataupun investasi yang berakibat menurunnya kualitas peminjam. Lawrence (1995) sebagaimana dikutip oleh Louzis et.al (2012) menjelaskan tentang teori model life-cycle consumption. Model ini menyatakan bahwa calon peminjam/ peminjam dengan pendapatan rendah masuk dalam kategori yang cukup berisiko. Teori ini berpendapat bahwa kemungkinan suatu kredit mengalami gagal bayar tergantung pada pendapatan dan tingkat pengangguran dan disebabkan pula oleh tingginya ketidakpastian mengenai kondisi ekonomi di masa yang akan datang dan suku bunga kredit. Banyak penelitian terdahulu yang menunjukkan fakta bahwa kondisi ekonomi makro sebuah negara memiliki peran yang penting sebagai determinan kinerja institusi perbankan yang beroperasi pada sistem keuangan negara tersebut. Hasil penelitian Aviliani et al. (2015) menunjukkan bahwa kondisi ekonomi makro memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam menentukan kinerja institusi perbankan di Indonesia. Hasil penelitian tersebut konsisten dengan teori-teori keuangan makro yang menyebutkan keterkaitan variabel ekonomi makro dengan kinerja sektor perbankan. Indikator ekonomi makro yang sering digunakan untuk melihat pengaruhnya terhadap kinerja perbankan diantaranya adalah suku Bunga domestik, nilai tukar, dan aktivitasaktivitas di pasar modal (Aviliani et al., 2015). Hipotesis 2: Kondisi ekonomi makro berpengaruh positif terhadap NPL.
Proses Manajemen Risiko Kredit sebagai Determinan NPL. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan adanya peran penting dari manajemen risiko kredit yang efektif guna membantu mengurangi kemungkinan kegagalan dan membatasi ketidakpastian pencapaian kinerja keuangan yang diperlukan (e.g. Llewellin, 2002; Abid et al., 2014). Sebagian besar penelitian mendukung gagasan bahwa adanya hubungan positif antara manajemen risiko kredit yang efektif dan profitabilitas bank. Sebelum mendiskusikan tentang pengaruh manajemen kredit terhadap keuntungan bank, batasan tentang definisi manajemen kredit perlu untuk diperjelas. Terdapat beberapa definisi yang diberikan tentang manajemen kredit oleh para ahli ekonomi. Mirach (2010), sebagai contoh, menjelaskan bahwa manajemen kredit merupakan pelaksanaan dan maintance dari beberapa kebijakan dan prosedur untuk meminimalkan modal yang terikat dengan debitur dan untuk meminimalkan kredit macet. Dapat dikatakan bahwa manajemen kredit merupakan pengelolaan keuangan dengan tujuan agar kredit yang disalurkan menjadi modal dari kreditur dan fungsi dari manajemen kredit juga mendorong efisien dimana kredit menjadi alat yang sangat baik untuk bisnis agar tetap stabil secara finansial. Fungsi manajemen kredit ini tentu perlu didukung dengan adanya manajemen risiko kredit yang efektif. Lapteva (2009) menjelaskan bahwa manajemen kredit yang efektif tidak terlepaskan dari perkembangan teknologi perbankan, dimana akan meningkatkan kecepatan dalam membuat keputusan dan mendorong pengurangan biaya pengawasan risiko kredit. Risiko kredit merupakan salah satu risiko yang signifikan dalam kegiatan perbankan yang muncul akibat sifat kegiatan yang dilakukan institusi perbankan. Berkaitan dengan NPL ini, Gestel & Baesems (2008) bahkan secara tegas menyebut bahwa gagal bayar dari sedikit nasabah dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi bank. Hakim dan Neaime (2001) mencoba untuk menguji pengaruh likuiditas, kredit, dan modal pada kinerja bank di bank Mesir dan Lebanon; mereka menemukan bahwa tindakan manajemen risiko merupakan kegiatan yang strategis sedemikian mempengaruhi penerapan aturan-aturan dan hukum perbankan. Njanike (2009) menemukan bahwa tidak adanya
manajemen risiko kredit yang efektif menyebabkan terjadinya krisis perbankan, dan sistem manajemen risiko yang tidak memadai yang pada akhirnya menyebabkan krisis keuangan. Hasil penelitian Kithinji (2010) bahkan menunjukkan bahwa bagian yang lebih besar dari keuntungan bank tidak begitu dipengaruhi oleh variabel lain selain kredit dan kredit bermasalah. Selanjutnya Boahene, Dasah dan Agyei (2012) menguji hubungan antara risiko kredit dan profitabilitas bank, dan menemukan hubungan positif antara risiko kredit dan profitabilitas bank. Beberapa penelitian lain juga menunjukkan tingkat urgensi manajemen risiko kredit untuk menunjang kinerja bank melalui kemampuannya untuk menekan NPL. Gakure, Ngugi, Ndwiga dan Waithaka (2012) menyelidiki efek dari teknik manajemen risiko kredit pada kinerja bank dari pinjaman tanpa anggunan. Mereka menyimpulkan bahwa risiko keuangan dalam organisasi perbankan mungkin mengakibatkan kendala kerugian pada kemampuan bank untuk memenuhi tujuan bisnisnya. Poudel (2012) mengeksplorasi berbagai indikator manajemen risiko kredit yang mempengaruhi kinerja keuangan bank menemukan bahwa indikator yang paling terpengaruh dalam kinerja keuangan perbankan adalah tingkat gagal bayarnya. Nawaz dan Munir (2012) menemukan bahwa manajemen risiko kredit berpengaruh terhadap profitabilitas bank, dan mereka menyarankan bahwa manajemen harus berhati-hati dalam menyiapkan kebijakan kredit yang mungkin tidak berpengaruh negatif terhadap profitabilitas. Idowu dan Awoyemi (2014) mengungkapkan bahwa manajemen risiko kredit berpengaruh terhadap profitabilitas bank. Dari berbagai penelitian tersebut dapat dilihat bahwa manajemen kredit yang benar dapat menyelamatkan bisnis perbankan tersebut dan dibutuhkan penilaian nasabah yang saksama, sehingga mengurangi kredit macet yang akan terjadi.
B. Neraca Perdagangan Luar Negeri
Kebijaksanaan neraca pembayaran dan perdagangan luar negeri merupakan bagian yang integral dari keseluruhan kebijaksanaan yang berlandaskan pada trilogi pembangunan dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat yang merata dan adil dan meletakkan landasan yang kuat untuk tumbuh dan berkembang atas kekuatan sendiri. Salah satu tugas pokok selama Repelita I adalah meIaksanakan program stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi sebagai landasan bagi pembangunan jangka menengah dan panjang. Untuk masaRepelita II, pengerahan dana-dana pembangunan dalam negeri maupun dana luar negeri tetap merupakan salah satu kebijaksanaan utama guna peningkatan laju pertumbuhan dan untuk mendorong perubahan struktur ekonomi yang antara lain meliputi struktur produksidan perdagangan luar negeri.
1. Pengertian Neraca Pembayaran Dan Neraca Perdagangan
a. Neraca Pembayaran
Neraca pembayaran merupakan suatu ikhtisar yang meringkas transaksi-transaksi antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain selama jangka waktu tertentu (biasanya 1 tahun ). Neraca pembayaran mencakup pembelian dan penjualan barang dan jasa, hibah dari individu dan pemerintah asing, dan transaksi finansial. Umumnya neraca pembayaran terbagi atas neraca transaksi berjalan dan neraca lalu lintas modal dan finansial, dan item item finansial. Dan untuk menyusun neraca pembayaran luar negeri atau neraca pembayaran internasional, perlu dibedakan antara debit dengan transaksi kredit.
b. Neraca Perdagangan
Neraca perdagangan adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan selisih antara ekspor dan impor. Neraca perdagangan bisa disebut dengan ekspor NETO. Neraca perdagangan yang positif berarti negara tersebut mengalami ekspor yang nilai moneternya melebihi impor yg bisa disebut surplus perdagangan. Perdagangan internasional melibatkan berbagai transaksi ekonomi antara satu negara dengan negara lain. Transaksi ekonomi tersebut kemudain dicatat dalam bentuk neraca. Neraca perdagangan internasional merupakan salah satukomponen penting dalam neraca pembayaran internasional.
2. Jenis-Jenis Neraca Pembayaran Dan Perdagangan
Secara umum, neraca pembayaran terbagi menjadi tiga jenis, antara lain :
a. Neraca Pembayaran dan Perdagangan Defisit
Neraca pembayaran defisit adalah neraca pembayaran yang menunjukkan jumlah transaksi pembayaran luar negeri (disebut transaksi debet) lebih besar dibandingkan transaksi penerimaan dari luar negeri (disebut transaksi kredit).
b. Neraca Pembayaran dan Perdagangan Surplus
Neraca pembayaran dan perdagangan surplus adalah neraca pembayaran yang menunjukkan transaksi debet lebih kecil dibandingkan transaksi kredit.
c. Neraca Pembayaran dan Perdagangan Seimbang
Neraca pembayaran dan perdagangan Seimbang adalah neraca pembayaran yang menunjukan transaksi debet sama dengan transaksi kredit.
3. KOMPONEN DALAM NERACA PEMBAYARAN
Neraca pembayaran memiliki beberapa komponen, yaitu current account (transaksi berjalan), dan capital account (transaksi modal).
a. Current Account
Current Account adalah semua transaksi barang dan jasa yang dicatat dalam neraca perdagangan, jika neraca transfer tidak ada atau nol. Adapun komponen yang ada dalam current account adalah sebagai berikut:
· Neraca perdagangan barang (visible trade), yang terdiri atas barang-barang dan emas tidak moneter.
· Neraca jasa (invisible trade), yaitu pembayaran imbalan terhadap pemakaian faktor-faktor produksi yang terdiri atas ongkos pengang kutan dan asuransi, hasil turisme, pendapatan modal, pemerintah, pos dan telekomunikasi, serta jasa-jasa lainnya termasuk pembayaran bunga utang.
Transaksi berjalan yang surplus menunjukkan bahwa pada neraca perdagangan jumlah ekspor lebih besar daripada impor. Sebaliknya, jika neraca perdagangan defisit berarti impor lebih besar daripada ekspor.
b. Capital Account
Hal-hal yang termasuk ke dalam transaksi capital account, yaitu semua catatan yang berisi transaksi modal sebagai berikut:
Sektor publik, yang meliputi:
· Penerimaan pinjaman dan bantuan.
· Pelunasan pinjaman.
- Sektor swasta, yang meliputi:
· Penanaman modal langsung investasi portofolio.
4. Tahapan-Tahapan Neraca Pembayaran Dan Perdagangan
Setiap negara cenderung memiliki beberapa tahapan dalam neraca pembayaran dan perdagangannya, dari negara debitur muda hingga negara kreditur madya. Berikut penjelasannya:
∞ Negara debitur muda dimana pada tahapan ini suatu negara lebih banyak mengimpor dari pada mengekspor selisih diantara keduanya ditutup melalui pinjaman luar negeri sehingga memungkinkan negara tersebut menumpuk modal.
∞ Negara debitur madya dimana pada tahapan ini neraca perdagangan suatu negara telah surplus, tetapi pertumbuhan dividen dan bunga yang harus dibayarkan untuk pinjaman luar negeri menjadikan saldo neraca modalnya kurang seimbang.
∞ Negara kreditur muda dimana pada tahapan ini suatu negara mengembangkan ekspornya secara luar biasa, bahkan negara meminjamkan uang kepa da negara-negara lain.
∞ Negara kreditur madya dimana pada tahapan ini pendapatan modal dan investasi luar negeri memberikan surplus cukup besar terhadap pos tak tampak yang kemudian diseimbangkan dengan defisit neraca perdagangan.
5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Neraca PembayaranDan Perdagangan
a. Neraca Pembayaran
Faktor-faktor yang menimbulkan ketidakseimbangan neraca pembayaran antara lain sebagai berikut:
· Perubahan Kurs Devisa
Jika neraca pembayaran defisit, maka kurs valuta asing mengalami kenaikan dan kurs rupiah mengalami penurunan. Dan bila terjadi surplus, maka kurs valuta asing mengalami penurunan dan kurs rupiah mengalami kenaikan.
· Perubahan Harga
Jika ekspor lebih besar daripada impor berarti barang yang ada di dalam negeri sangat laku terjual di luar negeri, maka harga barang dalam negeri menjadi meningkat.
· Perubahan Tingkat Pendapatan
Ekspor merupakan komponen pendapatan nasional, sehingga berubahnya nilai ekspor akan mengakibatkan berubahnya pendapatan nasional.
b. Neraca Perdagangan
Faktor yang mempengaruhi neraca perdagangan antara lain:
· Biaya produksi (tanah, tenaga kerja, modal, pajak, insentif, dll) ekspor dalam perekonomian mereka dalam perekonomian impor.
· Biaya dan ketersediaan bahan baku, barang setengah jadi dan input lainnya.
· Bursa pergerakan nilai.
· Multilateral, bilateral dan unilateral pajak atau pembatasan perdagangan.
· Hambatan non-tarif seperti linghkungan, kesehatan atau standar keselamatan.
· Ketersediaan devisa yang memadai yang dapat digunakan untuk membayar impor.
· Harga pokok produksi di rumah (dipengaruhi oleh respon dari pasokan).
6. Masalah yang Muncul dalam Analisis Pembayaran dan Perdagangan
Masalah yang timbul dalam analisis neraca pembayaran dan neraca perdagangan antara lain:
1. Seringkali mengabaikan hubungan antara transaksi internasional yang satu dengan yang
lain, sehingga ketidakseimbangan dalam neraca pembayaran diasosiasikan dengan satu transaksi saja tanpa melihat hubungannya dengan yang lain.
2. Surplus transaksi yang sedang berjalan sering dianggap baik, sebaliknya defisit dianggap jelek.
3. Keputusan untuk memberi bantuan (Aid) seharusnya lebih didasarkan pada kekuatan ekonomi negara secara keseluruhan.
7. Contoh Kasus Neraca Pembayaran dan Perdagangan Indonesia
Sebagai negara yang berpenduduk terbesar di dunia dengan tingkat kebutuhan yang sangat tinggi, Indonesia tidak terlepas dari kegiatan perekonomian internasional. Dengan potensi besar yang ada, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan intensitas perdagangan yang mobile dan aktif. Berikut beberapa data yang berhubungan dengan kegiatan perekonomian Indonesia dengan negara lain melalui penyajian data neraca pembayaran dan perdagangan.
a. Neraca Pembayaran
Neraca Pembayaran Indonesia
Tahun Terpilih
DIANTARA 1987-1999
Kedudukan neraca pembayaran defisit (+) surplus (-)
Sumber : Bank Indonesia,laporan tahunan,beberapa tahun
Neraca Pembayaran Malaysia
1987-1999
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Sumber : Malaysia Bank, financial transaction leading
Analisis :
Pada tahun 1987, Indonesia mengalami Surplus neraca sebesar $7500. Pada tahun yang sama, Malaysia dengan neraca perdagangannya mengalami defisit sebesar $1500. 3 tahun selanjutnya, selisih perhitungan Indonesia bergerak ke kisaran $123. Sedangkan Malaysia mengalami defisit sampai tahun selanjutnya.
b. Neraca Perdagangan
NERACA PERDAGANGAN
INDONESIA-PERU
2004-2009
(DALAM US$)
TAHUN
|
EKSPOR
|
IMPOR
|
NERACA
|
VOLUME
|
2004
|
25.250.200
|
25.775.700
|
-570.500
|
51.025.900
|
2005
|
27.838.800
|
36.422.200
|
-8.538.400
|
64.261.000
|
2006
|
34.399.600
|
31.175.300
|
+ 3.224.300
|
65.574.900
|
2007
|
42.154.400
|
27.971.500
|
+ 14.173.900
|
70.125.900
|
2008
|
49.850.700
|
36.180.600
|
+ 13.670.100
|
86.031.300
|
2009
|
51.171.500
|
36.472.300
|
+ 14.699.200
|
87.643.800
|
Analisis :
Di lihat dari neraca perdagangan internasional Indonesia - Peru pada tahun 2004 - 2009 yaitu pada tahun 2004 dan 2005 Indonesia mengalami devisit. Tetapi pada tahun 2006-2009 Indonesia mendapatkan surplus, yaitu pada tahun 2006 US$ 3,244 juta, tahun 2007 US$ 14,173 juta, tahun 2008 US$ 13,670, dan tahun 2009 US$ 14,699 juta. Ekspor Indonesia ke Peru antara lain radio tape, asam sulfur, printer, karet alam, gelas, computer, kamera video, produk tekstil, pakaian, kertas, kendaraan bermotor (rakitan di Indonesia), suku cadang kendaraan bermotor, ban, alas kaki, dinner ware, kulkas. Sedangkan komoditi impor Indonesia dari Peru antara lain tepung ikan dan fish oil, anggur segar, copper sulfate, produk perunggu, kabel akrilik, kapas, wool (alpaca dan llama).
C. Input Output Model dan ICOR
1. Pengertian Definisi Incremental Capital Output Ratio, ICOR
Secara sederhana ICOR dapat diartikan sebagai ukuran yang menyatakan besarnya tambahan modal yang di perlukan untuk meningkatkan satu unit pengeluaran. Hubungan kedua variable ini dapat di informasikan sebagai berikut;
ICOR = ΔK/ΔY
ICOR = Nilai dari mental Capital Output Ratio
ΔK = Penambahan Modal
ΔY = Penambahan Pengeluaran
ICOR merupakan rasio antara penambahan modal dengan penambahan pengeluaran. Rasio ini menunjukan efisien penggunaan modal yang ditambahkan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Untuk dapat menghitung berapa investasi yang harus dikeluarkan agar mencapai menambahan GDP tertentu, maka penambahan modal dinyatakan sebagai investasi dan penambahan pengeluaran dinyatakan sebagai penambahan GDP. Dalam hal ini penambahan persedeaan modal ΔK sama dengan investasi I. Sedangkan penambahan pengeluaran ΔY sama dengan penambahan pengeluaran agregat atau penambahan GDP.
ΔK = I = Investasi
ΔY = Penambahan GDP yang diharapkan
ICOR = I/ΔY
Persamaan tersebut menyatakan beberapa unit investasi yang diperlukan untuk menambah satu unit GDP. Misal nilai ICOR sama dengan tiga, maka jumlah investasi yang diperlukan adalah tiga kali penambahan GDP yang diharapkan. Untuk meningkatkan GDP sebesar satu Dollar Amerika dibutuhkan investasi sebesar tiga Dollar Amerika. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut;
I = ICOR x ΔY
Jika ICOR = 3, maka investasi yang diperlukan adalah;
I = 3 x ΔY
Penambahan GDP yang diharapkan adalah satu Dollar Amerika, sehingga;
ΔY = USD 1, maka investasi yang diperlukan adalah;
I = 3 x USD 1 = USD 3
2. Pengaruh ICOR Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Dari bahasan tersebut dapat dikatakan bahwa untuk dapat menaikkan GDP (Groaa Domestic Product) sebesar 1 USD maka diperlukan investasi sebesar 3 USD. Ini artinya perekonomian akan tumbuh 3 kali dari nilai investasi yang dikeluarkan.
Meningkatnya jumlah investasi akan diikuti dengan meningkatnya peembelian terhadap barang-barang modal seperti mesin atau peralatan dan sarana produksi lainnya. Barang modal ini digunakan untuk mendirikan berbagai jenis industry dan perusahaan. Pertumbuhan sector industri dan perusahaan merupakan bentuk nyata terciptanya lapangan kerja. Pengaruh langsung dari tumbuhnya industry dan perusahaan adalah meningkatnya permintaan terhadap tenaga kerja yang tercermin dari turunnya tingkat pengangguran.
Diketahui bahwa GDP merupakan inductor pertumbuhan ekonomi suaru negara. Dengan peningkatan investasi maka perekonomian suatu negara akan tumbuh. Pertumbuhan GDP ini juga meningkatkan investasi dapat menurunkan tingkat pengangguran suatu negara.
DAFTAR PUSTAKA
http://ranggapra.blogspot.co.id/
https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiuqNvrm_7XAhWBXrwKHXzaDhUQFggyMAI&url=https%3A%2F%2Fwww.bappenas.go.id%2Ffiles%2F5613%2F5229%2F9653%2Fbab-04-pj-1978-cek__20090203163041__1809__4.doc&usg=AOvVaw3Ohug5JMdTs5XNyd6cRng-
http://mynet-singojuruh.blogspot.co.id/2013/12/makalah-tentang-neraca-pembayaran.html?m=1
Komentar
Posting Komentar