Teknologi Informasi dan Multimedia - Aplikasi Multimedia dalam Pendidikan
APLIKASI
MULTIMEDIA DALAM PENDIDIKAN
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh
Edwards, Williams dan Roderick (1968) tentang penggunaan berbagai media dalam
memulai proses belajar, menunjukkan bahwa peserta didik dalam kelompok
eksperimen yang menggunakan media proses belajar yang terpadu memperoleh hasil
yang signifikan lebih baik pada tahap 0.5 daripada peserta didik kelompok
kontrol yang menggunakan media tradisional (buku teks) dalam proses belajarnya.
Beberapa hasil penelitian lain tentang multimedia untuk pembelajaran
menunjukkan hasil yang signifikan diantaranya [Munir (1997, 2001, 2006, 2007,
2008, 2009, 2010), Rusman, (2007), Aref, Asmaiwaty (2007), Indrihardini, Tri
(2009)].
Pada dekade 1960 komputer telah
menghasilkan teks, suara, dan grafik walaupun masih sangat sederhana sehingga
bisa digunakan dalam media pendidikan. Donald Bitzer sebagai Bapak PLATO
(Programmed Logic for Automated Teaching Operations) mengembangkan pembelajaran
berbasis komputer (CAI: Computer Assisted Instruction) pada tahun 1966 di
University of Illinois at Urbana-Champaign. Uji coba pembelajaran berbasis
komputer pertama dilakukan pada tahun 1976 di sekolah Waterford Elementary
School. Sejak saat itu, pembelajaran berbasis komputer mulai dipublikasikan dan
digunakan di sekolah-sekolah umum sebagai media pembelajaran berbasis komputer.
Lahirnya multimedia yang digunakan dalam
pendidikan adalah salah bagian perkembangan dari pembelajaran berbasis komputer
tersebut. Pada dekade tahun 1990 komputer berbasis multimedia interaktif mulai
berkembang, para pendidik mulai mempertimbangkan implikasi apa yang mungkin
timbul dari media baru ini jika diterapkan dalam lingkungan belajar mengajar.
Dalam jangka waktu yang relatif singkat, munculnya multimedia dan teknologi
komunikasi yang terkait telah menerobos hampir ke setiap aspek dalam kehidupan
masyarakat. Mishra dan Sharma (2005) mengatakan bahwa multimedia interaktif
yang awalnya dipandang sebagai pilihan teknologi dalam konteks pendidikan untuk
alasan sosial, ekonomi, dan pedagogis telah menjadi suatu kebutuhan dalam
pendidikan. Banyak lembaga pendidikan menginvestasikan waktu, usaha, dan uang
mereka ke dalam penggunaan teknologi.
Munir (2011) mengatakan bahwa multimedia
dalam pendidikan memiliki tiga fungsi utama yaitu fungsi suplemen yang sifatnya
pilihan, fungsi pelengkap dan fungsi pengganti. Sejauh ini multimedia masih
dianggap sebagai fungsi pilihan dan pelengkap dibanding dengan fungsi
pengganti. Selama ini multimedia masih dianggap sebagai salah satu dari fungsi
tersebut, belum dianggap sebagai satu kesatuan yang membuat satu kurikulum yang
terintegrasi. Karena kurangnya integrasi ini maka hasilnya akan menghasilkan
perubahan yang minimal.
Kegagalan kurangnya efektivitas
penerapan multimedia dalam pendidikan, selain dari tidak terintegrasinya multimedia
ke dalam kurikulum, juga dilatarbelakangi suatu kenyataan bahwa kebanyakan
pendidik tidak siap untuk perubahan yang dituntut dan dihasilkan oleh hadirnya
multimedia. Meskipun beberapa pendidik yang berpengalaman memiliki kemampuan, keterampilan,
pengetahuan baik teknis maupun pedagogis sehingga mengetahui apa dan bagaimana
mentransformasi proses pembelajaran dari menggunakan media tradisional ke
penggunaan multimedia.
Penggunaan multimedia dalam pendidikan
mempunyai beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh media lain. Diantara
keistimewaan itu adalah:
·
Multimedia dalam pendidikan berbasis
komputer;
·
Multimedia mengintegrasikan berbagai
media (teks, gambar, suara, video dan animasi) dalam satu program secara secara
digital;
·
Multimedia menyediakan proses interaktif
dan memberikan kemudahan umpan balik;
·
Multimedia memberikan kebebasan kepada
peserta didik dalam menentukan materi pelajaran;
·
Multimedia memberikan kemudahan
mengontrol yang sistematis dalam pembelajaran.
Criswell (1989) mendefinisikan CAL (Computer Aided Learning) sebagai
penggunaan komputer dalam menyampaikan bahan pengajaran dengan melibatkan
peserta didik secara aktif serta memberikan umpan balik. Pendek kata tujuan CAL
ialah untuk mengajar. Mengajar bermakna menyampaikan pengajaran dengan
menggunakan program komputer. Menurut Gagne dan Briggs (Wang dan Sleeman 1994)
komputer menjadi popular sebagai media proses belajar karena komputer memiliki
keistimewaan yang tidak dimiliki oleh media proses belajar yang lain sebelum zaman
komputer. Diantara keistimewaan tersebut adalah:
·
Hubungan interaktif: Komputer
menyebabkan terwujudnya hubungan diantara stimulus dengan respon. Bahkan
menurut Dublin (1984, 1996) komputer dapat menumbuhkan inspirasi dan
meningkatkan minat.
·
Pengulangan: Komputer memberi fasilitas
bagi pengguna untuk mengulang apabila diperlukan. Untuk memperkuat proses
belajar dan memperbaiki ingatan. Dalam pengulangan amat diperlukan kebebasan
dan kreativitas dari para peserta didik (Clements, 1994).
·
Umpan balik dan penguatan: Media
komputer membantu peserta didik memperoleh umpan balik (feed back) terhadap
pelajaran secara leluasa dan bisa memacu motivasi peserta didik dengan
penguatan positif yang diberi apabila peserta didik memberikan jawaban.
Kulik, Bergert dan William (1983) telah
mengkaji tingkat signifikansi penggunaan Proses Belajar Berbantukan Komputer
terhadap 48 orang peserta didik. Hasil kajiannya menunjukkan bahwa 39 orang
peserta didik yang menggunakan komputer memperoleh nilai yang lebih tinggi
dibandingkan dengan peserta didik yang menggunakan metoda tradisional. Kajian
ini juga menyatakan bahwa CAL memiliki tingkat signifikansi 0.5 berbanding
dengan proses belajar dengan menggunakan metoda tradisional.
Menurut hasil kajian Mathis, Smith dan
Hansen (1970) terhadap sikap para peserta didik di perguruan tinggi, didapati
bahwa peserta didik memiliki sikap yang positif terhadap CAL apabila peserta
didik tidak mengalami kesukaran dari segi literasi komputer sedangkan bagi
peserta didik yang mengalami kesulitan literasi komputer mereka bersifat
negatif CAL. Walau demikian, mereka masih menganggap CAL adalah lebih baik
diikuti daripada tidak sama sekali. Magidson (1978) menyatakan bahwa sikap
peserta didik yang menggunakan CAL bagi pelajaran Bahasa Inggris lebih positif
dibandingkan dengan peserta didik Biologi. Koch (1973) menyatakan CAL lebih
berkesan dalam bidang bahasa asing daripada bidang sains.
Keberkesanannya disebabkan pendidik akan
menjawab persoalan-persoalan peserta didik dengan cepat di samping mengawasi
perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor para peserta didik. Stratfold
(1994) telah maju selangkah dalam mengukur unsur interaktivitas program
multimedia itu dengan menyarankan untuk pertama sekali bahwa pencipta
multimedia mesti menentukan umpan balik jenis manakah yang mesti diberikan
kepada peserta didik, sebab umpan balik itulah yang akan membentuk hubungan dua
jalur di antara pendidik dan peserta didik seperti yang disebutkan di atas.
Selain itu, proses belajar termasuk proses belajar bahasa juga memikirkan
berbagai panca indra dan keterampilan. Ini termasuk merespon dan cara meniru
karena perbuatan itu juga melibatkan berbagai panca indra merangsang anak-anak
dalam proses belajar.
Implikasi umpan balik yang bisa
diterapkan dalam proses belajar membaca dengan menggunakan multimedia melalui
konsep permodelan, latihan, dukungan, artikulasi dan refleksi. Dalam konteks
perbicaraan ini makna permodelan bermakna bahwa multimedia diibaratkan sebagai
seorang pakar yang dengan kepakarannya boleh memamerkan pelajaran dengan lebih
berkesan kepada anak-anak. Pelajaran membaca dapat diwujudkan dengan
memodifikasi unsur-unsur yang ada dalam multimedia. Diantaranya menjadikan teks
berklip, memasukkan intonasi suara yang serasi, menjadikan gambar yang bersesuaian
dengan animasi yang menarik. Sementara itu latihan pula memerlukan software untuk anak-anak terus menerus
melakukan interaktif ke atas persoalan-persoalan yang diberikan sehingga
anak-anak menemui jawaban yang benar dan tepat. Metoda latihan ini lebih
cenderung kepada perbaikan untuk meningkatkan pelajaran berdasarkan tingkat
kreativitas anak-anak dalam memecahkan masalah yang diberikan.
Umpan balik terhadap satu tindakan
memberi semacam informasi tentang bagaimana tindakan mempengaruhi sistem. Dengan
diberi umpan balik pengguna dapat menyesuaikan tindakan mereka. Laurillard
(1993) menyebutkan bahwa ada dua jenis umpan balik dalam program komputer yaitu
intrinsik dan umpan balik yang mesti dimasukan oleh peserta didik ekstrinsik.
Umpan balik intrinsik ialah umpan balik
sebagai akibat satu tindakan secara alami (natural) dalam arti bahwa program
telah menyediakan fasilitas antara pertanyaan dengan jawaban. Contohnya apabila
anak-anak menekan kata air maka program akan menunjukkan jawaban air laut, air sungai,
air minum atau air hujan. Sedangkan umpan bali ekstrinsik adalah umpan balik
terhadap data yang dimasukan ke dalam program karena program menyediakan
fasilitas pencarian suatu kata tertentu. Misalnya anak-anak ingin tahu apakah
makna dari kata air maka program menampilkan basis data yang berhubungan dengan
air atau kalau kata tersebut tidak diketahui maka akan ada jawaban penolakan.
Peserta didik diharapkan mampu untuk
menentukan topik proses belajar yang sesuai dan disukainya. Kebebasan
menentukan topik adalah salah satu karakteristik proses belajar dengan
menggunakan komputer. Menampilkan kembali bahan-bahan pelajaran dan data yang
tersimpan secara cepat dan mudah yang disediakan dalam program proses belajar.
Proses belajar penjelajahan seperti ini telah lama dipraktekan dalam dunia
pendidikan seperti yang digunakan dalam hiperteks, basis data, dan lainnya
dalam konteks multimedia.
Multimedia menyediakan peluang yang
sangat besar terhadap kontrol peserta didik dibandingkan media-media lainnya.
Peserta didik tidak hanya mempunyai kontrol terhadap kedalaman dan pemilihan
bahan tetapi juga interaktif yang memungkinkan peserta didik menjalin
komunikasi dengan program. Dalam mendefinisikan kontrol peserta didik, Baker
(1990) menetapkan unsur-unsur pengguna berdasarkan perintah-perintah sebagai
berikut: apa yang dipelajari, langkah-langkah belajar, arah proses belajar yang
harus diambil, dan gaya dan strategi dari proses belajar yang harus dilakukan.
Sedangkan Laurillard (1987) mempertimbangkan tiga aspek kontrol, yaitu:
·
Strategi proses belajar; bisakah peserta
didik mengambil keputusan tentang urutan isi dan aktivitas pembelajaran?
·
Manipulasi isi proses belajar; cara
peserta didik mengalami yang dipelajari.
·
Gambaran isi; bisakah peserta didik
mengembangkan pandangan mereka pada subjek-subjek tertentu?
Kesimpulan atas penerapan multimedia
dalam pendidikan memiliki respon yang cukup positif sebagai metoda
pembelajaran. Memiliki kecenderungan untuk meningkatkan kualitas penyampaian
materi dan juga meningkatkan kemampuan bagi masing-masing pihak, baik itu
pengajar ataupun yang diajar. Peningkatan interaktivitas juga menjadi kunci
yang penting dalam kebermanfaatan penerapan multimedia itu sendiri. Meski
begitu penerapan multimedia ini bukan tanpa kekurangan. Masih banyak hal yang
perlu dikembangkan serta diperbaiki dalam pemilihan media yang tepat untuk
masing-masing bidang pelajaran.
Komentar
Posting Komentar